SELAMAT DATANG DI BLOG GW
HOME | ABOUT | CONTACT | TIPS

Friday, 29 June 2012

TULISAN IBD (MANUSIA & PANDANGAN HIDUP )



"KASIH SEJATI SEORANG IBU"
                                                 

Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya.

“Apakah saya bisa melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan. Raut wajahnya penuh dengan kebahagiaan. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan si ibu membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungilnya, ia terlihat menahan napas. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu.

Bayi sang ibu ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.

Waktu membuktikan, bahwa pendengaran putranya ternyata bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”

Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.

Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”

Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.

“Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik si ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?”

Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.

Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.

Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.

TULISAN IBD (MANUSIA & PENDERITAAN II)


"KISAH PENDERITAAN DAN PERJUANGAN"



Mungkin karena terlalu nyantai, orang lain gak mengerti bahwa sebagaimana layaknya manusia…aku juga mengalami banyak hal pahit. Cuman, emang gak pernah cerita ke orang lain. Semuanya ditelan mentah-mentah, sampai tersedak karenanya. Sejak kecil, selalu dihadapkan pada berbagai masalah…yang kadang bikin muak. Terkadang, beberapa masalah benar-benar mempertaruhkan kewarasanku. Walau begitu, semuanya diselesaikan sendiri, karena tidak mudah memang mempercayakan masalah kita ke orang lain. Terus menatap masa depan, begitulah motoku.

Penderitaan memang hal yang inheren dalam kehidupan. Seperti tulisan Victor Frankl, bekas tahanan NAZI, bahwa penderitaan memberikan makna bagi kehidupan kita. Dan saya mempercayainya. Penderitaan membuat kita lebih tegar dalam menjalani hidup. Persis seperti kata Nietzche, "Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu lebih kuat". Tentu Allah menciptakan dunia dengan penderitaan sebagai ujiannya dengan tujuan tertentu. Penderitaan bukanlah sesuatu yang mesti ditangisi, tapi bisa jadi kita harus mensyukurinya. Itu mungkin pertanda bahwa Allah masih menyayangi kita, dan penderitaan adalah jalan untuk dekat pada-Nya.

Beberapa kali tersesat dalam menghadapi penderitaan dan masalah, membuat saya mengerti bahwa menderita mengandung banyak hikmah. Berusaha sekuat tenaga adalah perjuangan manusia untuk melawan penderitaan. Mungkin karena sering menghadapi masalah, saya terbiasa untuk tidak cengeng dalam melihat masalah. Malahan, saya sudah lupa rasanya menangis. Terakhir menangis, mungkin 10 tahun yang lalu. Tapi, memang berusaha saja tidak cukup. Ada kalanya, usaha kita tetap saja kandas. Di sanalah, ujian lain dimulai. Bisakah kita bersikap ikhlas dan menerima kenyataan? Bersikap menerima dan bukannya menyangkal, adalah kunci dari memahami penderitaan.

Toh, semuanya tidaklah terlalu buruk. Jika kita bandingkan, kita masih lebih beruntung daripada pengemis jalanan yang mencari uang sepanjang hari di panas yang terik. Kita yang memiliki fisik sehatjuga masih lebih beruntung dibandingkan orang cacat. Kita juga masih beruntung bisa makan dan punya rumah. Lalu, mengapa terus merasa kurang? Dunia ini persis seperti air laut..semakin banyak meminumnya, semakin merasa haus. Sering, kita harus melihat ke bawah untuk tahu betapa beruntungnya kita. Di luar sana, banyak saudara kita yang menangis kelaparan, kedinginan, kehilangan kasih sayang dari sekitarnya….

TULISAN IBD (MANUSIA & HARAPAN)


"MEMBUANG HARAPAN"


Beberapa tahun lalu ada sebuah film mandarin berjudul “The Savage Kids”. Bercerita tentang anak kecil yang nakal yang suka mengganggu anak-anak kecil lain di sebuah perguruan karate. Anak nakal tersebut singkat cerita kemudian bertemu dengan seseorang laki-laki dewasa yang mengajarkannya karate, tak hanya karate yang diajarkan kakak itu namun juga banyak sekali falsafah hidup yang ia tuturkan sederhana melalui contoh-contoh cerita. Salah satunya akan saya ingat dan masih saya ingat sampai sekarang.Ini adalah sebuah cerita yang dituturkan oleh sang kakak kepada “adiknya” saat mereka berada di tepi pantai :
…….
Inilah ceritanya:
Sepulang sekolah seorang anak berjalan pulang melewati sebuah gang sempit, di sebuah gang sempit itu dia melihat seorang pengemis kecil yang sedang menangis…..anak sekolahan itu menghampiri pengemis kecil itu, lalu ia bertanya,
“mengapa kamu menangis??”
“aku kehilangan uangku, 1 dollar!” jawab pengemis kecil dengan tersedu-sedu.
“ya sudahlah, ini aku berikan 1 dollar buat kamu, sudah yah kamu jangan nangis lagi!!” tutur anak sekolah itu.

Tapi seketika uang itu diambil oleh pengemis kecil, pengemis kecil itu lalu menangis semakin keras. Anak sekolahan itu semakin bingung dan lalu ia bertanya lagi,
“mengapa engkau menangis lagi?? Bukankah aku sudah memberikan uang 1 dollar untukmu??”
“tidak,tidak…seharusnya sekarang aku mempunyai uang dua dollar jika seandainya tadi aku tidak kehilangan 1 dollar milikku!!” jawab sang pengemis kecil.
———-
Cerita itu sungguh luar biasa…..bahwa sebuah harapan yang hilang akan mungkin dan bisa terganti dengan hal yang sama atau lebih indah. Tidak bersyukurkah kita jika harus mengingat-ingat dan meratapi harapan-harapan yang telah musnah?
“Kamu tidak bisa hidup seperti mereka, namun saat ini kamu sudah bisa mencapai apa yang mereka bisa”  Kata kakak itu.  Ia tahu bahwa anak (yang semula nakal) itu sangat ingin bisa belajar di perguruan karate itu, namun apa daya ia hanya anak nakal yang tak akan bisa diterima oleh teman-temannya di perguruan. Kini ia punya sang kakak yang selalu sabar mengajarkannya karate dan perlahan-lahan mengembalikan dia menjadi anak yang baik.

Jangan terlalu banyak harapan jika kita tahu bahwa harapan itu hanyalah kosong belaka. Sungguh sia-sia karena masih banyak harapan-harapan lain yang harus dipikirkan untuk segera diwujudkan.
Membuang satu harapan mungkin terasa lebih ringan, terasa lebih ringan untuk menjalani dan mencapaiharapan-harapan lain yang lebih nyata.

Seperti sebuah gelas yang terisi air penuh, maka ia akan tumpah saat ia diisi air kembali. Kosongkan pikiranmu, lupakan apa yang seharusnya dilupakan agar bisa diisi dengan sesuatu yang baru.  (Dalam film “Forbiden Kingdom” dituturkan oleh Jackie Chan).
Melupakan adalah tugas terberat karena kita harus mengingat kembali untuk bisa melupakan.  (Dituturkan oleh Anastasia Vera dalam “Fenomania” ANTV).

If you need a shoulder Or if you need a friend , I’ll be here standing Until the bitter end.  No one needs the sorrow, No one needs the pain (Rocket Queen – Guns N’ Roses).

TULISAN IBD (MANUSIA & HARAPAN II)


"HARAPAN MENJADIKAN SENYUMAN CINTA"

 

Cinta siapa yang tak kenal cinta. Macam2 cinta beraneka rasa,ada pahit,manis,asam bahkan ada yang ujung akhirnya berduka. Lengkap sudah bumbunya yg ada didalam masakan Cinta ini. Seorang hamba cinta kepada penciptaNya,seseorang anak kepada orang tuanya didasarkan Cinta,begitupun sebaliknya. Antara lelaki dan perempuan menjalin kasihpun karena cinta. Cinta banyak macamnya.

Tapi cinta ada yang bahagia dan ada yg membuat kecewa. Seperti kisahku ini...Aku punya rasa cinta seperti manusia yang lainnya. Entah apa yg membuat aku ada rasa ingin didalam hati,ingin bertemu,ingin bercakap walau sebentar. Begitu memang rasa cinta pada umumnya. Cinta pertamaku bagaikan"Perahu yg tak ditemani dayung tuk mengayuhnya".

Tak mungkin berjalan ketengah lautan tanpa sebuah dayung,perahu itu akhirnya memendam harapannya untuk berlayar jauh ketengah lautan. Sedih memang,berdiam hanya bisa memendam harapan yang tak pasti untuk menunggu dayung yg datang mengajak ketengah lautan. Sebulan,2bulan,3bulan menunggu,sampai setahun dayung pun tak kunjung menampakkan dirinya.

Kecewa akhirnya kecewa, Aku kecewa...Perahu itu bagaikan diriku memiliki cinta yang tak berbalas. Menunggu Dia yg tak berperasaan sama hanya menumbuhkan rasa sedih yg mendalam. Pengalaman cintaku yang pertama pahit rasanya. Ingin kukubur sedalam-dalamnya sedalam palung dilautan. Akan kukunci rapat2 rasa cintaku ini.Tapi apakah ada yg memberikan harapan agar perahu itu bisa tersenyum berlayar ketengah lautan?

Harapan yang semula hampir terkubur akhirnya bisa tergali lagi dan semoga saja galian itu bisa terbuka,terbuka sampai akhirnya terbang kelangit impian. Awal mulanya aku tak percaya dia seperti seseorang yg pernah mengisi hatiku dulu,walaupun cintaku hanya tersimpan dalam dipalung hati. Dari mulai sifatnya,gerak-geriknya, hati ini bak bunga mekar yang paling indah. Sedikit demi sedikit tumbuhlah rasa rindu yang menggebu,bila tak ada dia hati kecewa tak bisa bertemu.

Ya sepertinya perahu itu akan memulai perjalanannya. Dalam hati ini bertanya apakah sebuah dayung itu akan menghampiri untuk menemani perjalanan sebuah perahu ketengah lautan?sebuah harapan yg tak tau kepastiannya. Aku tak ingin perahu itu hanya bisa memandang jauh sebuah dayung yg tak kunjung dekat. Dan Aku tak ingin pula Cinta ini bertepuk sebelah tangan,karena aku tak ingin seperti dulu. Entah harapan yg kecil itu bisa atau tidak karena terlalu sulit menggapai impian yang dinantinya.

Ternyata dayung ke2 yang tiba2 muncul itu hanya mengingatkan sebuah kekecewaan. Dia datang membawa senyuman dihati ini,lalu dia pergi tak berpesan,akhirnya kekecewaan lagi yg kudapatkan. Mungkin tuk saat ini cintaku hanya bisa bersemi didalam hati ini saja.

Perahu kemanapun kau akan berlayar, berhati-hatilah. Memang tanpa dayung tak bisa melakukan perjalanan tapi janganlah akan memulai perjalanan itu dg sembarang dayung,walaupun kau cepat sampai ditengah lautan. Karena sebetulnya dayung semacam itu terbuat dari kayu yg cepat rapuh. Lebih baik menunggu dayung yg benar2 akan menemani perjalananmu perahu.

Semoga benar2 ada dayung yg tulus walaupun entah kapan perahu itu menunggu. Jangan sampai tergoda perahu dg kedatangan dayung yg sebetulnya hanya memberikan rayuan semata. Kini Aku sadari harapan menjadikan sebuah cinta itu tak sembarang. Semoga Harapan itu akan ada cinta yg lengkap dengan senyuman indahnya.

Wednesday, 27 June 2012

TULISAN IBD (MANUSIA & KEGELISAHAN II)

                             "KEGELISAHAN SEORANG GERILYAWAN"


                                        



Masriadi Sambo - KONTRAS
Para pejuang tampak garang. Tidak takut menghadang lawan, meski diserang ribuan butir amunisi. Meski begitu, pejuang manusia biasa. Bukan robot tak bernurani. Pejuang memiliki kegelisahannya tersendiri.




KALIMAT itu cocok untuk menggambarkan kisah yang diberi judul “Kabut Perang”. Sebuah novel karya Ayi Jufridar, seorang jurnalis, kini menetap di Lhokseumawe. Gaya bertutur Ayi, dalam novel ini mirip dengan gaya bertuturnya pada novel pertama “Aloen Buluek” yang diterbitkan oleh Grasindo Jakarta.

Ayi tidak bisa lepas dari gaya bertuturnya sehari-hari. Gaya bicara Ayi terekam benar dari kalimat-kalimat dalam novel ini. Gaya penulisan jenis ini sangat membantu orang memahami makna kalimat yang disajikan. Bagi orang yang mengenal Ayi, tentu sangat bisa memahami gaya penulisan Ayi. Santai, penuh deskripsi dengan detail di sana-sini kalimat. Namun, gaya bahasa ini, belum tentu bisa dinikmati oleh masyarakat umum di seluruh penjuru negeri ini.

Bagi saya, membaca novel ini sama dengan mendengarkan cerita dari penulisnya. Sedikit panjang, namun detail. Saat ini, berkembang gaya penulisan bertutur ala Majalah Tempo. Menggunakan kalimat pendek, penuh makna, dikolaborasi dengan detail-detail cerita di seluruh bagian paragraf. Ini yang belum terlihat.

Dari sisi gagasan, cerita ini memuat pesan bahwa perang tak pernah menguntungkan masyarakat sipil. Di negeri mana pun, perang selalu menghadirkan kesengsaraan. Menyisakan duka mendalam, dan merenggut ratusan nyawa ummat manusia. Perang hanya bagian ambisi kekuasaan.

Pesan itu pula menjadi latarbelakang cerita novel ini. Selain itu, para gerilyawan selalu mengatakan mereka pantang mundur, berani menghadapi musuh. Meski senjata hanya satu atau dua orang saja yang memanggulnya. Itu pun tidak boleh melepaskan tembakan sembarangan. Harus menghemat peluruh. Selebihnya, para gerilyawan itu hanya memiliki senjata tajam, sejenis rencong, parang, pedang dan lain sebagainya.

Cerita lain yang diungkapkan Ayi, bahwa ada pula pejuang yang galau, takut, gemetar. Tidak mengerti makna perjuangan sesungguhnya. Apa yang ingin diraih, kata “merdeka” atau sekadar balas dendam semata.

Tasrif sebagai tokoh utama dalam novel ini terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintah, berawal ketika bom mobil meledak di depan rumahnya. Dia masuk dalam gerakan anti pemerintah, karena usai bom meledak, seisi kampung dibumi hanguskan. Tak satu pun tersisa. Ini pula yang membuat Tasrif geram.

Lalu, dia ditugaskan untuk merekrut pasukan baru. Mencari orang-orang yang benci pada sikap dan kebijakan pemerintah. Khususnya, orang yang mengalami tindak kekerasan dari aparat keamanan negara. Dan, dia pun gagal. Kegagalan Tasrif bukan tidak beralasan. Dia galau, tak tau arah gerakan. Sekali waktu dia merenung, mencari apa makna dari perjuangan yang dia lakukaan saat ini. Wajar saja, saat itu, Tasrif belum genap berusia 20 tahun. Dia mengantungi kartu tanda penduduk (KTP) dengan status pelajar. Tentu, aparat negara tidak pernah curiga, pelajar masuk dalam gerakan melawan pemerintah.

Lalu, dia pun mendapat tugas berat. Membeli senjata di luar kota. Ini yang membuat hatinya semakin binggung. Menggunakan senjata, tentu digunakan untuk menembak lawan. Belum tentu, lawan yang dibunuh itu bersalah. Dalam hukum Islam, membunuh orang bagian dari dosa besar. Hati Tasrif risau.

Dia mencoba merenung. Bertanya pada teman-temannya. Bertanya pada langit dan alam semesta. Jawabannya variatif. Ada yang membenarkan membunuh atasnama perjuangan. Ada pula yang enggan berkomentar. Semua menyampaikan kebenaran versi masing-masing. Tasrif binggung, baginya kebenaran adalah hukum Allah. Tidak boleh ditafsirkan sesuka hari.

Lalu, latar belakang para pemberontak ini pun bervariasi. Ada yang menghindari dari kejaran hutang-piutang. Ada pula karena semangat balas dendam, temannya yang lain karena kecewa ditinggal sang kekasih. Semuanya memiliki pandangan yang berbeda. Lalu, tujuan perang ini sendiri apa?

Sementara itu, korban harta dan nyawa terus berjatuhan. Perang terus menyalak. Suara desing mesiu dan bom terdengar saban waktu. Tak ada ruang ekspresi. Hidup di daerah perang dibekap ketakutan mendalam. Takut akan Izrail menjemput. Takut pula bila dibunuh atau mati koyol bila peluru nyasar tersangkut dijantung.

Suasana semakin kacau. Pasukan negara terus bertambah. Lalu lalang kendaraan pengakut senjata dan bahan makanan pasukan negara terus datang ke seluruh pelosok kampung. Kontak senjata tak terelakan. Sekali kontak senjata, maka satu kampung sirna. Ludes dilalap sang jago merah. Tasrif masih bertahan. Kini, tugasnya sebagai mata-mata. Mencari tau dimana pasukan negara. Mengabarkan ke para gerilyawan. Dia bebas bergerak. Keluar-masuk kota. tanpa ada yang curiga. Dia benar-benar menjadi intel sejati.

Dia pula mengantarkan bahan makanan pada pasukan di dalam hutan. Setiap kali melewati pos aparat negara, dia berakting seolah masyarakat sipil biasa. Bukan berasal dari kelompok gerilyawan. Sepandai-pandai tupai melompat, sesekali jatuh juga. Pepatah klasik itu dialami Tasrif. Dia pun tertangkap. Temannya, yang dulu bergabung dalam kelompok gerilyawan menunjukkan dirinya. Dia ditangkap. Dikunci dalam ruang pengab.

Cerita itu direkam Ayi. Saya menyebutkan cerita ini tidak hanya mengandung fakta, namun juga fiksi yang dalam. Bisa ditamsilkan, 50:50. Artinya, 50 persen fakta, sisanya fiksi. Tidak mudah menggambarkan ketakutan ketika perang masih menyalak.Namun, Ayi menggambarkan dengan apik. Tidak menghakimi siapa benar, dan siapa salah. Tidak pula dengan gamblang menyebutkan kelompok pemberontak bersalah, dan aparat negara yang benar. Dia berada ditengah-tengah. Meski untuk lebih detail, tak ada masalah menunjukkan siapa yang dimaksud sebagai kelompok separatis, dan siapa pula aparat negara. Mungkin, Ayi agak hati-hati.

Dia paham benar masyarakat di daerah bekas perang sangat sensitif dengan isu-isu perang. Mudah salah tafsir. Mudah pula menghakimi karya orang sebagai upaya pencemaran nama baik. Nampaknya Ayi memilih jalur aman. Tidak memilih nama tempat yang ada di salah satu daerah, dan nama institusi tertentu.

Ya, inilah realitas perang. Ayi merekam dalam tulisan sastra. Tujuannya, mengingatkan semua kita, bahwa perang pasti dibarengi dengan penderitaan. Ya, penderitaan masyarakat sipil, yang tidak ikut dalam salah satu kelompok yang bertikai. Buku ini layak dibaca oleh seluruh masyarakat sipil di Aceh dan Indonesia. Agar kita sadar, bahwa damai adalah pilihan yang tepat. Menjaga demokrasi seutuhnya dan menjaga damai di negeri ini selamanya.

TULISAN IBD (MANUSIA & KEINDAHAN)






Kata keindahan berasal dari kata indah, yang mempunyai arti bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah, tatanan, perabot rumah tangga, suara, warna, dan sebagainya. Keindahan identik dengan kebenaran. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Dalam seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan. Nilai estetik adalah nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan. Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (instrumental/contributory value), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu. Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri.

Keindahan yang didasarkan pada selera seni didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan, dan menikmati sesuatu yang indah. Apabila kedua dasar ini dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah. Sesuatu yang indah itu memikat atau menarik perhatian orang yang melihat dan mendengar. Bentuk diluar diri manusia itu berupa karya budaya yaitu karya seni lukis, suara, tari sastra, drama dan film, atau berupa ciptaan Tuhan misalnya pemandangan alam, bunga warna-warni, dan lain-lain. Pengalaman "keindahan" sering melibatkan penafsiran beberapa entitas yang seimbang dan selaras dengan alam, yang dapat menyebabkan perasaan daya tarik dan ketenteraman emosional. Karena ini adalah pengalaman subyektif, sering dikatakan bahwa beauty is in the eye of the beholderatau "keindahan itu berada pada mata yang melihatnya." Kata benda Yunani klasik untuk "keindahan " adalah κάλλος, kallos, dan kata sifat untuk "indah" itu καλός, kalos. Kata bahasa Yunani Koine untuk indah ituὡραῖος,hōraios, kata sifat etimologis berasal dari kata ὥρα, hora, yang berarti "jam." Dalam bahasa Yunani Koine, Sebuah buah yang matang (pada waktunya) dianggap indah, sedangkan seorang wanita muda mencoba untuk tampil lebih tua atau seorang wanita tua mencoba untuk tampil lebih muda tidak akan dianggap cantik. Dalam bahasa Yunani Attic, hōraios memiliki banyak makna, termasuk "muda" dan "usia matang."


 

Wanita yang elok rupanya disebut "cantik" atau "ayu", sementara pria yang rupawan disebut "tampan" atau "ganteng" di dalam masyarakat. Sifat dan ciri seseorang yang dianggap "elok", apakah secara individu atau dengan konsensus masyarakat, sering didasarkan pada beberapa kombinasi dari Inner Beauty (keelokan yang ada di dalam), yang meliputi faktor-faktor psikologis seperti kepribadian, kecerdasan, keanggunan, kesopanan, kharisma, integritas, dan kesesuaian, dan Outer Beauty (keelokan yang ada di luar), yaitu daya tarik fisik yang meliputi faktor fisik, seperti kesehatan, kemudaan, simetri wajah, dan struktur kulit wajah.

Standar kecantikan/ketampanan selalu berkembang, berdasarkan apa yang dianggap suatu budaya tertentu sebagai berharga. Namun manusia yang relatif muda, dengan kulit halus, tubuh proporsional, dan fitur biasa, secara tradisional dianggap paling elok sepanjang sejarah
Hanya manusia yang mengenal keindahan yang mampumenikmatinya. Lihatlah taman yang indah dengan bunga-bunga. Itu pun perawatannyayang dilakukan dengan cara yang indah. Berapa banyak lebah dan kupu-kupu yangsinggah, dan berapa banyak lagi binatang yang hidup dalam komunitas tamantersebut. Kalau kita menjadi manusia dan hamba Tuhan yang berakal tentunya,kita akan selalu bersyukur atas keindahan yang telah diciptakan.
Banyak para pujangga dan orang-orang yang merasadirinya puitis telah menuliskan keindahan dalam bait-bait yang teralun harmonisdi setiap katanya. Atau pun seorang penulis lagu yang mengartikan keindahandalam setiap bait dalam liriknya dan harmonisasi sebuah alunan melodi. Mungkinberbeda lagi dengan seorang pelukis yang mengekspresikan keindahan lewatsentuhan kuas yang menjadikannya ekspresif dalam kanvas.
Sekarang, apa yang menjadi pokok dalam hidup iniadalah menjadi khalifah. Seperti apakah pemimpin yang kita harapkan dalam dirikita sendiri. Karena kita tahu, bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dengancara yang indah. Masihkah kita mampu menjaga keindahan alam yang diciptakantanpa harus merusaknya. Mungkinkah kita masih bisa menjadi khalifah ataupemimpin yang melayani penduduknya dengan cara yang indah. Mungkin tak perlu untuk bersusah payah memikirkankeindahan alam yang memang tak akan sanggup kita jaga jika hanya seorangindividu yang bekerja. Lihatlah saja dari diri kita sendiri. Sudahkah kitamenjaga keindahan yang ada didalam diri kita? Apa yang akan terjadi bilakeindahan yang sudah kita miliki diambil kembali oleh pemilik-Nya? Tentunyahanya perasaan kesal dan penyesalan yang akan menghantui kita. Oleh karena itu,merawat keindahan tidak perlu dalam hal besar, kita bisa melihat dan memulainyadengan menjaga keindahan dari hal kecil yang berada disekitar kita. Namun itu semua terserah pada diri kita masing-masing. Dengan kesadaranyang kita miliki, kita akan mengerti dan memahami bagaimana mengartikan serta menjaga keindahan ciptaan Tuhan.

TULISAN IBD (MANUSIA & PENDERITAAN)



 http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2011/11/Disaster.jpeg
 Hari itu,  Minggu, 26 Desember 2004. Hari yang dirasakan  masyarakat Aceh bagai hari kiamat. Bumi Serambi Makkah diguncang gempa dahsyat berkekuatan 8.9 SR.  Rumah dan bangunan lain yang  berdiri tegak dna megah berguncang-guncang, bahkan runtuh menghujam tanah.  Orang-orang yang berada di dalam rumah atau bangunan kaget dan melompat berhamburan keluar, menghindari dari kemungkinan runtuhnya bangunan. Hari itu, kedua kaki yang digunakan untuk berdiri, kala kerasnya guncangan gempa itu, orang-orang hanya bisa duduk tengkurap di tanah, tidak bisa berdiri. Sementara sejumlah bangunan rubuh.

Semua orang, besar - kecil, tua - muda, merasa sangat kaget dan penuh ketakutan. Betapa tidak, peristiwa gempa sebesar itu, belum pernah terjadi di Aceh, walau Aceh sering dihujam gempa. Namun, hari itu, saat gempa mengguncang, tidak ada satu manusia pun yang mungkin berani berdiri dan tidak ketakutan. Semua orang, mengingat dan menyebutkan Tuhan. Tidak cukup dalam hati, tetapi melafalkannya dengan suara-suara yang keras, meminta pertolongan kepada Tuhan, agar dihentikan gempa tersebut. Tuhan adalah sentral sebuah permohonan dan doa. Lalu, Tuhan menghentikan gempa tersebut, namun akibat dari gempa yang begitu dahsyat itu beberapa menit kemudian, bencana tsunami yang memilukan menghantam  daratan di pantai barat dan timur Aceh. Peristiwa yang ditandai dengan surutnya air laut dan kering, laluombak besar datang bergulung dengan ketinggan melebihi 10 meter kembali menghantam daratan menggulung dan meluluhlantakan serta menyapu semua yang ada di daratan itu, tanah, bangunan dan bahkan manusia. Semuanya binasa, hanya dalam hitungan menit menewaskan ratusan ribu nyawa. Tidak ada satu angka pasti. Namun menurut Departemen Sosial RI (11/1/2005) adalah 105.262 orang. Sedangkan menurut kantor berita Reuters, jumlah korban Tsunami diperkirakan sebanyak 168.183 jiwa dengan korban paling banyak diderita Indonesia, 115.229 (per Minggu 16/1/2005). Sedangkan total luka-luka sebanyak 124.057 orang, diperkirakan 100.000 diantaranya dialami rakyat Aceh dan Sumatera Utara.

Ketika  tragedi yang maha dahsyat itu meluluhlantakan Aceh, tragedy itu paling tidak, bisa dikatakan sebagai sebuah revolusi yang bisa membinasakan Aceh dalam waktu cepat dan massal serta merubah wajah Aceh dalam sekejab. Bahkan ada yang menganggap hari itu adalah hari kiamat, karena apa yang terjadi saat itu, benar-benar telah menghilangkan harapan masyarakat melihat masa depan. Buktinya, sebuah ungkapan Good bye Aceh, 26 Desember 2004 dengan tulisan  berwarna merah yang ditulis pada sebuah dinding toko di jalan Teuku Nyak Arief, Jeulingke, Banda Aceh. Tulisan itu seakan memberi isyarat bahwa Aceh sudah tamat, atau sebagai ungkapan selamat tinggal dari para korban bencana gempa dan tsunami yang sangat memilukan  dan tak terlupakan itu. Pilu dan luka, bukan hanya dirasakan oleh para korban, akan tetapi telah membangkitkan naluri solidaritas lintas suku, agama, ras dan wilayah. Karena ketika bencana itu telah menggerakan hati nurani setiap orang dari seluruh dunia. Mereka bukan hanya mengirimkan bantuan material, tetapi datang membantu meringankan beban para korban dan juga Negara ini.  Mereka sejak dari masa darurat, sudah berduyun-duyun datang membantu. Mungkin bantuan semacam ini belum pernah ada untuk di wilayah bencana lainnya. Sungguh sangat luar biasa. Inilah yang dijanjikan Tuhan bahwa di balik bencana itu pasti ada hikmahnya. Tergantung kita, mau atau tidak menarik hikmah dari setiap bencana yang terhadi. Kita patut berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan bersyukur kepada Tuhan atas kebesaranNya.

Bencana tsunami  Aceh yang penuh luka, penderitaan bagi  yang ditinggalkan oleh orang-orang tercinta, merupakan bencana yang membuat banyak orang bangkit kepada sebuah kesadaran akan kekuatan sang pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi dalam peristiwa yang mengenaskan itu, tidak sedikit kejadian-kejadian yang di luar batas kemampuan manusia. Muncul berbagai keajaiban yang sangat menakjubkan dan dan tak terjangkau oleh pikiran manusia, walau ada yang menganggap itu suatu hal yang kebetulan saja dan sebagainya. Namun, paling tidak bencana itu banyak yang mengembalikan keasadaran orang akan Tuhan. Tidak sedikit orang dengan sadar menyerahkan bahwa bencana ini adalah atas kehendak Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa bencana dahsyat itu sebagai hukuman Tuhan, karena ulah manusia yang semakin jauh dari  naluri ketauhidan. Maka, saat itu pula, secara factual kesadaran beragama ( iman dan taqwa) menjadi semakin kelihatan meningkat. Buktinya, rumah-rumah ibadah yang ada, setiap hari penuh dan disesaki orang yang melaksanakan beribadah dan berdoa, memohon ampun dan sebagainya.  Orang-orang semakin takut melakukan hal-hal yang dilarang Tuhan.

 http://aangbagaskara.files.wordpress.com/2008/12/bunghatta.jpg?w=500&h=375

Kini, 8 tahun sudah bencana tsunami berlalu. Banyak sekali hikmah di balik bencana yang sangat mahal dan dan tak terhitung nilai kerugiannya itu. Namun, bila kita panadai bersyukur, maka kita akan mampu melihat betapa besar hikmah bagi masyarakat korban, masyarakat Aceh dan bagi masyarakat Indonesia sendiri. Paling kurang, dengan besarnya bala bantuan yang diberikan ke Aceh lewat pemerintah maupun non pemerintah, secara fisik telah merubah wajah Aceh yang sebelumnya jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah lain, kini tampil semakin lebih baik.  Bagi pemerintah baik pusat maupun daerah,  bencana tsunami juga membawa berkah. Pemerintah tidak  harus mengeluarkan dana  sendiri  yang besar untuk membangun kembali Aceh, karena banyak pihak yang mengulurkan tangan untuk membantu. Di samping itu, diyakini atau tidak, hikmah tsunami bagi rakyat Aceh dan Indonesia, tsunami telah membuka mata hati mereka yang bertikai untuk membuka diri membuka pintu damai dan  Aceh menjadi daerah yang kembali terbuka bagi masyarakat luar membantu Aceh.
Namun, di balik hikmah yang positif itu, disadari atau tidak, disengaja atau tidak, gelombang perubahan yang sangat dahsyat juga menghujam Aceh.  Perubahan yang sangat deras itu mendobrak sendi-sendi norma dan  nilai-nilai moralitas masyarakat Aceh sendiri yang terpancar pada bentuk perilaku sebagian masyarakat Aceh pasca bencana tsunami tersebut. Betapa ironis, ketika melihat orang-orang kaya Aceh yang punya rumah besar pada masa awal pasca tsunami itu memanfaatkan kesempatan. Bayangkan saja, di saat orang-orang luar datang membantu masyarakat korban tsunami, mereka ( para orang kaya) memanfaatkan kedatangan mereka dengan cara menaikan sewa rumah semahal-mahalnya. Sehingga bantuan yang seharusnya bisa diterima lebih besar oleh korban, habis terserap untuk membayar sewa rumah. Ini juga yang menyebabkan angka inflasi menjadi tinggi.  Dalam kondisi seperti ini, mendorong yang kaya, semakin kaya, tanpa peduli dampak bagi orang miskin dan korban yang tidak sanggup menyewa rumah.
Bukan hanya itu, perilaku buruk kita kian tampak dalam banyak hal. Kebanyakan dari kita memperlihatkan sifat serakah, ingin memperoleh lebih banyak bantuan, misalnya ketika ada yang memberikan bantuan rumah, ada orang yang berupaya mendapatkan bantuan rumah ganda. Yang bukan korban tsunami bahkan mengaku korban. Sementara yang benar-benar korban tidak mendapatkan bantuan rumah. Sikap dan perilaku korup dan suka menipu, yang seharusnya hilang, malahan menguat dengan banyaknya proyek pasca bencana itu.
Masjid dan rumah ibadah yang dulu penuh saat awal masa tsunami, kini kalah bersaing dengan pengunjung warung kopi. Warung kopi lebih menarik dan lebih disukai oleh berbagai kalangan tua dan muda. Apalagi setelah kota Banda Aceh menjadi kota sejuta warung kopi, keramaian di warung-warung kopi semakin terlihat dan bahkan panggilan azan pun sudah tidak terlalu diharaukan. Orang-orang lebih suka menghabiskan waktunya di warung-warung kopi. Ini juga sebuah perubahan social yang melanda  Banda Aceh dan juga kota-kota kecil lainnya di Aceh.
Selain itu, sebagai daerah yang sangat terbuka pasca tsunami, masyarakat Aceh juga terus digerus oleh pengaruh globalisasi yang ikut memperlemah nilai-nilai adat dan tradisi sosial budaya   masyarakat Aceh yang dahulu kental dan berpegang erat pada nilai nilai moral, menjadi mencair menerima perubahan. Buahnya, Aceh yang dikenal tidak ada kasus HIV/AIDS, kemudian berjangkit begitu hebat.  Metronews.com, tanggal 12 Desember 2011 menyebutkan bahwa "Penyebaran virus HIV/AIDS sejak 2004 hingga saat ini semakin mengkhawatirkan. Penyakit berbahaya itu menyerang segala usia dan tidak memandang kelas sosial masyarakat, makanya kita harus waspada,"  Berdasarkan data Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Aceh, hingga akhir November 2011 jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 102 orang. Jumlah itu tersebar di 21 dari 23 Kabupaten/Kota. Dari 102 orang tersebut, 80 diantaranya masih menjalani perawatan dan 22 orang telah meninggal dunia.  Kondisi semacam ini yang bakal menggalaukan adalah fenomena kehidupan remaja dengan gaya pacaran yang semakin terbuka ditambah semakin berkembangnya sikap apatis dan permisif  di masyarakat kita. Mereka tidak merasa takut akan apa yang pernah disebut dengan kemurkaan Tuhan yang bisa jadi mendatangkan bencana serupa. Buktinya, arena pacaran di pantai seperti Uleleu, dan bahkan di café-café juga terlihat kian menjadi hal biasa, walau pada beberapa baliho, Para masyarakat mengingatkan para orang muda untuk tidak membudayakan pacaran, ternyata anak-anak setinglat SMP saja ketika berkenderaan saling berpelukan saat berkenderaan, bagaikan sepasang suami istri.
Kiranya, kini perubahan perilaku masyarakat kita pasca bencana tsunami  yang cendrung kita abaikan, akan terus berubah sejalan dengan semakin melemahnya kontrol social masyarakat kita.  Hilangnya sinergi antara keluarga, sekolah dan masyarakat, dalam membina moralitas anak, akan memperburuk wajah masyarakat Aceh .  Tentu saja perubahan-perubahan  perilaku masyarakat kita yang terus akan terjadi, tidak akan memperburuk wajah Aceh ke gerbang demoralisasi. Sebab apabila proses demoralisasi tidak terus dibendung sejak dini, dikhawatirkan  ini sering mengantarkan masyarakat Aceh terbawa arus tsunami moral. Mari kita bendung datangnya tsunami moral dengan saling  menjaga diantara kita.