SELAMAT DATANG DI BLOG GW
HOME | ABOUT | CONTACT | TIPS

Friday, 29 June 2012

TULISAN IBD (MANUSIA & TANGGUNG JAWAB)



"AYAH"






 Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab : “Sebab aku Laki-laki.” Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : ” Aku tidak mengerti.”
Dengan kerut kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-Laki.” Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :”Ibu mengapa wajah Ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”
Ibunya menjawab: “Anakku, jika seorang Laki-Laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu jawaban Sang Bunda.
Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan Laki-Laki, aku membuatnya sebagai Pemimpin Keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan Keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar Keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. “

“Ku-ciptakan Bahunya yang Kekar & Berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh Keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh Keluarganya. “

“Ku-berikan Kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar Keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. “

“Ku-berikan Keperkasaan & Mental Baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi Keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi Keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi Keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”

“Ku-berikan Kesabaran, Ketekunan serta Keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing Keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. “

“Ku-berikan Perasaan Keras dan Gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi Keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.”

“Ku-berikan Kebijaksanaan & Kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.”

“Ku-berikan Kerutan diWajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-Laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-Laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. “

“Ku-berikan Kepada Laki-Laki Tanggung Jawab penuh sebagai Pemimpin Keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-Laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat.”

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya. ” AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”
Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah…

With Love to All Father

TULISAN IBD (MANUSIA & PANDANGAN HIDUP II)



"KASIH SEORANG AYAH"


Radio merupakan salah satu teman yang selalu menemani
saya ketika sedang mengerjakan tugas, belajar, maupun santai.
Tidak pernah bosan rasanya mendengarkan acara-acara yang disajikan
oleh berbagai macam stasiun radio. Suatu malam, di sebuah stasiun
radio, sedang berlangsung acara dimana orang-orang berbagi pengalaman
hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas-tugas
kantor beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya.
    Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang
tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi
oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar.
Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu
sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan
sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun,
tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya.
     Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah
yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak
memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah
satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.
     Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu
meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia
ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun
merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu
masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.
     Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang
peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang
dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis “Untuk Anakku
Tersayang”. Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai
membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku
yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat
sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan
ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada
di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.
“Ya Tuhan, Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku
yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku.
     Kumohon Ya Tuhan, Jadikan buah kasih hambaMu ini Orang yang
berarti bagi sesamanya dan bagiMu. Jangan kau berikan jalan yang
lurus dan luas membentang. Berikan pula jalan yang penuh liku dan
duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya. Sekali
lagi kumohon Ya Tuhan, Sertailah anakku dalam setiap langkah
yang ia tempuh. Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu Selamat
ulang tahun anakku, Doa ayah selalu menyertaimu”.

     Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat
dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang
terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang
bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya.
Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayah memang sengaja
merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar
sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu
kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit
yang diderita…
      Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar
tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita.
Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita
lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti
apa yang sebenarnya terjadi. “Kasih seorang ayah, seorang ibu,
saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih
Tuhan dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal
bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas kasih
sayang itu”, kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu.

TULISAN IBD (MANUSIA & KEADILAN)




Tepat hari Selasa malam pada tanggal 10 Januari 2012, saya bersama dengan keluarga menghabiskan waktu bersama sambil menyaksikan tayangan televisi di rumah.
Saat itu, kami menyaksikan sebuah tayangan talkshow yang ada di salah satu stasiun tv swasta yang dikenal dengan nama Indonesia Lawyes Club. Malam itu membahas masalah mengenai Hukum Untuk Kaum “Sandal Jepit”.
Awalnya saya tidak mengerti mengenai topik yang dibahas saat itu. Dari yang tidak terlalu memperhatikan tayangan tersebut sampai terbawa suasana karena mengikuti diskusi yang ditayangkan malam itu.
Acara yang dibawakan oleh Bapak Karni Ilyas mencoba mengangkat topik hangat mengenai ketidakadilan yang terjadi di Indonesia bagi kaum “sandal jepit”. Menghadirkan pengacara-pengacara ahli yang ada di Indonesia serta petinggi POLRI , aparat lainnya yang berkaitan, serta beberapa korban ketidakadilan hukum yang terjadi di Indonesia.
Kasus pertama adalah mengenai meninggalnya dua orang remaja di dalam penjara yang ada di daerah Sumatera Barat tanpa diketahui alasan yang jelas dan terkesan ditutup-tutupi oleh pihak kepolisian. Kasus berikutnya adalah seorang TKI yang mencoba melaporkan tindakan atasannya dan dibantu oleh aparat keamanan setempat ( dua orang satpam), namun mereka malah diberhentikan dari tempat mereka bekerja dan dituduh sebagai tersangka pencemaran nama baik.
Kedua kasus ini sungguh amat mengiris hati ini ketika mendengar cerita hidup mereka. Keadilan terkesan hanya menjadi hak dan bagian bagi orang-orang yang memiliki uang banyak, derajat yang tinggi, status, dan memiliki kedudukan yang tinggi. Kemudian, bagaimana nasib orang-orang yang kurang beruntung atau dikenal dengan kaum “sandal jepit” yang tinggal di Indonesia?
Diskusi hangat dan kian memanas pun menjadi tayangan menarik bagi para masyarakat. Tayangan yang positif ini terus menjadi tayangan edukasi bagi masyarakat, membuka mata kita dimanakah sebenarnya letak hukum yang seharusnya diterapkan di Indonesia? Dimanakah peran pemerintah kita yang seharusnya?
Beberapa pihak terkait mencoba menyampaikan pendapatnya, namun saat itu saya sangat menyukai komentar yang disampaikan Prof. Dr. J.E. Sahetapy, seorang guru besar ilmu hukum. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan bagaimana aparat kepolisian dan aparat keadilan pada saat ini tidak memiliki wibawa sama sekali dalam menjalankan hukum di Indonesia sehingga banyak terjadi kasus-kasus yang janggal. Terlalu banyak korban ketidakadilan hukum dan semakin hari semakin meningkat.
Komentar dari guru besar ilmu hukum tersebut sungguh membuat saya terkagum dengan keberaniannya menyatakan kebenaran dan tidak gentar terhadap tekanan-tekanan dari pihak yang tidak bertanggungjawab. Berbicara apa adanya!! ya, inilah yang saya kagumi dari seorang Prof. Dr. J.E. Sahetapy.
Dapat kita lihat sendiri, betapa banyaknya koruptor yang mengambil uang negara, uang rakyat dan hanya dihukum dengan masa tahanan yang tidak terlalu lama. Di sisi lain, jika kita perhatikan, banyak sekali kaum yang kurang beruntung dan melakukan perbuatan kriminal, seperti merampok, mencuri sandal jepit, mencuri hasil tanaman tetangganya, mencopet, dan perbuatan kejahatan lainnya dan ketika dibawa ke dalam pengadilan mendapatkan hukuman penjara yang lebih lama dan terkesan terlalu berlebihan.
Memang saya tidak terlalu mengikuti perjalanan politik yang ada di Indonesia ini, namun saya dapat melihat dengan jelas betapa tidak adanya keadilan dalam negara tercinta ini. Dimanakah pemimpin kita yang seharusnya mampu menegakkan kembali keadilan di negara ini?
Keadilan seharusnya tidak mengenal kedudukan, harta, status, dan derajat. Keadilan berlaku bagi semua orang.

Semua manusia berhak mendapatkan keadilan!!!
Terkadang, saya suka berangan-angan, jika semua kejadian kaum “sandal jepit” terjadi dengan diri mereka sendiri, apa yang akan mereka rasakan? mungkinkah pemimpin kita sudah terlalu kebal dan hati nurani mereka tertutup dengan segala keserakahan, keangkuhan, keegoisan, dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri hingga merugikan orang lain.
Dunia memang kejam dan kita mungkin tidak bisa berbuat banyak dan tidak bisa berharap banyak dengan para pemimpin negara ini. Kita hanya bisa berdoa agar mereka segera disadarkan oleh Tuhan.
Semoga kita tidak mengikuti jejak yang salah dan mampu menjadi bibit penerus bangsa yang akan menegakkan kembali keadilan dan kebenaran. Memulai dengan menerapkannya dari lingkungan dimana kita berada, bekerja, keluarga, dan lingkungan sekitar kita.

TULISAN IBD (MANUSIA & PANDANGAN HIDUP )



"KASIH SEJATI SEORANG IBU"
                                                 

Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya.

“Apakah saya bisa melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan. Raut wajahnya penuh dengan kebahagiaan. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan si ibu membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungilnya, ia terlihat menahan napas. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu.

Bayi sang ibu ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.

Waktu membuktikan, bahwa pendengaran putranya ternyata bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”

Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.

Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”

Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.

“Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik si ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?”

Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.

Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.

Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.

TULISAN IBD (MANUSIA & PENDERITAAN II)


"KISAH PENDERITAAN DAN PERJUANGAN"



Mungkin karena terlalu nyantai, orang lain gak mengerti bahwa sebagaimana layaknya manusia…aku juga mengalami banyak hal pahit. Cuman, emang gak pernah cerita ke orang lain. Semuanya ditelan mentah-mentah, sampai tersedak karenanya. Sejak kecil, selalu dihadapkan pada berbagai masalah…yang kadang bikin muak. Terkadang, beberapa masalah benar-benar mempertaruhkan kewarasanku. Walau begitu, semuanya diselesaikan sendiri, karena tidak mudah memang mempercayakan masalah kita ke orang lain. Terus menatap masa depan, begitulah motoku.

Penderitaan memang hal yang inheren dalam kehidupan. Seperti tulisan Victor Frankl, bekas tahanan NAZI, bahwa penderitaan memberikan makna bagi kehidupan kita. Dan saya mempercayainya. Penderitaan membuat kita lebih tegar dalam menjalani hidup. Persis seperti kata Nietzche, "Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu lebih kuat". Tentu Allah menciptakan dunia dengan penderitaan sebagai ujiannya dengan tujuan tertentu. Penderitaan bukanlah sesuatu yang mesti ditangisi, tapi bisa jadi kita harus mensyukurinya. Itu mungkin pertanda bahwa Allah masih menyayangi kita, dan penderitaan adalah jalan untuk dekat pada-Nya.

Beberapa kali tersesat dalam menghadapi penderitaan dan masalah, membuat saya mengerti bahwa menderita mengandung banyak hikmah. Berusaha sekuat tenaga adalah perjuangan manusia untuk melawan penderitaan. Mungkin karena sering menghadapi masalah, saya terbiasa untuk tidak cengeng dalam melihat masalah. Malahan, saya sudah lupa rasanya menangis. Terakhir menangis, mungkin 10 tahun yang lalu. Tapi, memang berusaha saja tidak cukup. Ada kalanya, usaha kita tetap saja kandas. Di sanalah, ujian lain dimulai. Bisakah kita bersikap ikhlas dan menerima kenyataan? Bersikap menerima dan bukannya menyangkal, adalah kunci dari memahami penderitaan.

Toh, semuanya tidaklah terlalu buruk. Jika kita bandingkan, kita masih lebih beruntung daripada pengemis jalanan yang mencari uang sepanjang hari di panas yang terik. Kita yang memiliki fisik sehatjuga masih lebih beruntung dibandingkan orang cacat. Kita juga masih beruntung bisa makan dan punya rumah. Lalu, mengapa terus merasa kurang? Dunia ini persis seperti air laut..semakin banyak meminumnya, semakin merasa haus. Sering, kita harus melihat ke bawah untuk tahu betapa beruntungnya kita. Di luar sana, banyak saudara kita yang menangis kelaparan, kedinginan, kehilangan kasih sayang dari sekitarnya….